KAJIAN ATAS STRUKTUR DAN FUNGSI PUISI SAWER SERTA HUBUNGANNYA DENGAN RESEPSI MASYARAKAT SUNDA

Posted by admin on July 4 2008 Add Comments

(Studi tentang puisi sawer panganten sebagai alternatif bahan ajar Muatan Lokal di kabupaten Subang)

Kajian dalam penelitian ini dilakukan terhadap puisi sawer panganten. Langkah-langakah kerja dalam mengungkap unsur-unsur struktur dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya digunakan metode “deskriptif analitik” dengan teknik pengumpulan data wawancara dan tes angket, serta penentuan sampel digunakan teknik purpossive sampling. Wawancara digunakan maksudnya untuk mencari data teks sawer terhadap responden, sedangkan tes angket untuk mengetahui tanggapan atau resepsi masyarakat terhadap keberadaan sawer tersebut.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki sawer panganten ini, antaralain: (1) bentuknya bermacam-macam, seperti: kunasari, tejamantri, kidung, jemplang titi, pangapungan, dan tabur bunga,   (2) unsur-unsur kepuitisannya sangat kaya, seperti: bahasa figuratif, diksi dan bunyi, dan (3) kandungan isinya sangat luas dan befokus pada nasihat-nasihat untuk kedua mempelai, seperti: suami harus bertanggungjawab berkenaan dengan keselamatan dan kesejahteraan istrinya, suami berkewajiban memimpin istrinya, suami jangan menyakiti hati istrinya, dan yang lainnya. Maka oleh karena itu tidak heran jika sawer ini sampai sekarang tetap bertahan dan nilai-nilainya masih berlaku.

Sawer panganten merupakan karya sastra khazanah budaya Sunda. Karya sastra ini dipandang memiliki struktur fisik yang sesuai dengan konvensi sastra Indonesia. Di samping itu cakupan isinya sangat sarat dengan fatwa-fatwa yang berkaitan dengan bidang keagamaan, moral, etika, kedisiplinan, dan ekonomi, sehingga resepsi atau tanggapan masyarakat terhadap sawer ini sangat baik. Padahal, selain dari puisi sawer panganten masih banyak yang lainnya. Terbukti dengan adanya sawer: selamatan netes, selamatan kandungan, selamatan bayi, upacara turun tanah, mencukur rambut, khitanan dan gusaran, upacara pernikahan, upacara ruatan, upacara ganti nama, upacara pelantikan dan upacara mayat.

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mewariskan karya-karya para leluhur kepada para generasi baru sehingga dapat melestarikan dan mengembangkan khazanah kehidupan sastra Sunda di tengah-tengah persaingan budaya-budaya lain. Sebab sastra klasik adalah merupakan akar budaya bangsa, cermin jati diri bangsa dan sekaligus merupakan aset bangsa.

Bangsa yang tinggi adalah bangsa yang menghargai karya-karya leluhur yang diwariskan kepadanya. Sebagai wujud atas penghargaan tersebut yaitu dengan cara melestarikannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan warisan itu, di antaranya adalah dengan cara mengajarkan kepada generasi-generasi baru. Maka oleh karena itu, hasil dari penelitian ini akan dijadikan sebagai alternatif bahan ajar Muatan Lokal. Puisi sawer panganten dianggap relevan sebagai bahan ajar Muatan Lokal untuk siswa kelas III semester I dan sesuai dengan Kurikulum 1994.

Comments are closed.