PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN APRESIASI DRAMA

Posted by admin on July 4 2008 Add Comments

(Penelitian Tindakan Kelas terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Cimanggung, Kabupaten Sumedang)
oleh: Nurasia, S.Pd.

Model pembelajaran bermain peran dalam pembelajaran apresiasi drama merupakan salah satu masalah yang perlu menjadi perhatian para pendidik karena guru yang kreatif akan selalu mencari model pembelajaran yang baru dalam proses pemecahan masalah pembelajaran. Selama ini, khususnya kemampuan siswa dalam apresiasi drama sangat rendah sehingga menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran. Faktor penyebabnya antara lain (1) belum dimanfaatkannya bahan pengajaran drama secara maksimal, (2) aspek afektif siswa yang cenderung diabaikan dalam pembelajaran apresiasi drama, (3) pembelajaran apresiasi drama lebih mementingkan hasil sebagai produk daripada proses, (4) peserta didik selalu merasa bosan dan jenuh dalam belajar apresiasi drama, dan (5) terbatasnya pemahaman guru bahasa dan sastra Indonesia dalam apresiasi drama. Masalah-masalah itu perlu dicarikan solusinya, dengan menggunakan model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, kreatif, demokratis, kolaboratif dan konstruktif.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu bentuk penelitian yang dilakukan atau difokuskan pada situasi kelas dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru, sehingga hasil belajar peserta didik semakin meningkat.Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh beberapa simpulan bahwa (1) penerapan model bermain peran meningkatkan kinerja guru dengan indikasi membaiknya cara guru dalam melaksanakan proses pembelajaran; mulai dari membuka pembelajaran, mempersiapkan entry behaviour, mengelola kelas, memberi reward, menjadi motivator dan fasilitator, maupun melaksanakan sistem evaluasi; (2) penerapan model bermain peran mampu meningkatkan apresiasi drama dan pengalaman ekspresif siswa, dalam hal peningkatan aktivitas dan kreatifitas dalam proses pembelajaran, siswa memiliki keberanian bermain peran, mengemukakan pendapat, menghargai pendapat teman, etika bermain peran, memimpin diskusi, bekerja sama, tanggung jawab, mencari dan mengolah informasi, menganalisis dan membuat simpulan, serta tumbuhnya sikap kritis, demokratis dan kreatif dalam menyikapi persoalan yang dihadapi pada saat pembelajaran; (3) penerapan model bermain peran mampu meningkatkan hasil  belajar siswa, yaitu  semakin membaiknya nilai rata-rata sesudah penerapan model bermain peran  dibandingkan dengan nilai sebelumnya.

Dengan demikian penerapan model pembelajaran bermain peran dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran apresiasi drama khususnya di Sekolah Menengah Pertama.

Comments are closed.