PEMBELAJARAN APRESIASI CERITA PENDEK DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INDUKTIF YANG BERBASIS PEMBELAJARAN AKTIF

Posted by admin on July 4 2008 Add Comments

Studi Eksperimen di SMA Negeri 3 Tarogong Garut)

Tesis ini berjudul “Pembelajaran Apresiasi Cerita Pendek dengan Menggunakan Model Induktif yang Berbasis Pembelajaran Aktif (Studi Eksperimen di SMA Negeri  3 Tarogong Garut)”.

Model induktif yang berbasis pembelajaran aktif (MIBPA) pada dasarnya merupakan pengembangan dari model induktif yang dikemukakan oleh Bruce Joyce (1980:49-52). Model ini terdiri atas tiga tahapan pokok, yaitu tahap pembentukan konsep, interpretasi data, dan aplikasi prinsip. Pada setiap tahapan ini siswa terlibat langsung secara aktif dengan bantuan guru melalui pertanyaan-pertanyaan pancingan.

Masalah dalam penelitian ini menyangkut faktor model, yang di dalamnya dibahas tentang keefektifan, hasil pembelajaran apresiasi cerpen yang menggunakan model  induktif berbasis pembelajaran aktif, dan bisa tidaknya model itu diterapkan di SMA. Berdasarkan pokok-pokok tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keefektifan, hasil pembelajaran apresiasi cerpen dengan menggunakan model induktif  yang berbasis pembelajaran aktif (MIBPA), dan bisa tidaknya MIBPA diterapkan di SMA.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes postes dengan menggunakan kelompok pembanding yang diacak.Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik tes, teknik observasi, wawancara, teknik angket, dan model mengajar.

Populasi sumber data dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 3 Tarogong Garut. Sampel sumber datanya adalah kelas X2 dan kelas X7. Kelas X2 sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas X7 sebagai kelas kontrol. Teknik yang digunakan dalam pemilihan sampel yaitu random dengan cara diacak. Melalui cara ini semua kelas berpeluang untuk menjadi sampel penelitian.

Rata-rata hasil dari tes awal di kelas MIBPA adalah 33,67 dan di kelas yang bukan MIBPA adalah 28,47. Berdasarkan hasil tersebut, kemampuan awal siswa dalam mengapresiasi cerpen baik di kelas MIBPA maupun di kelas bukan MIBPA relatif sama. Rata-rata hasil tes akhir di kelas MIBPA adalah 49,47. Rata-rata selisih skor tes awal dengan tes akhir (gain) adalah 15,80. Hal ini berarti ada peningkatan walaupun sedikit. Rata-rata hasil tes akhir di kelas yang bukan MIBPA 42,60. Rata-rata selisih skor tes awal dengan tes akhir adalah 14,12.

Apabila dibandingkan rata-rata tes akhir dan selisih skor di kelas MIBPA dengan di kelas bukan MIBPA, kelas MIBPA paling unggul, walaupun perbedaannya sedikit. Oleh karena itu, MIBPA baik atau cocok untuk mengajarkan apresiasi cerpen. Namun secara statistik melalui uji t, pembelajaran apresiasi cerpen dengan menggunakan MIBPA dan yang tidak menggunakan MIBPA tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Berdasarkan hasil perhitungan, t hitung (1,12) < t tabel (2,65). Namun demikian, dilihat dari hasil observasi, pendapat guru, dan pendapat siswa, MIBPA baik dan cocok untuk mengajarkan apresiasi cerpen.

Leave a Reply